Sejak kapan ada manusia tubuhnya terbelah tapi tak mati?

Aku Ra. Ada yang percaya aku ditinggali dua manusia? Atau bahkan lebih. Kadang bisa menjadi air yang menyegarkan, menjadi tanah tempat tumpuan berpijak, menjadi api yang siap membakar siapa saja atau angin yang sanggup memporak-porandakan bangunan.

Bangunan ini sebetulnya tak diragukan lagi kekokohannya. Sudah lama ia berdiri. Hanya saja saat aku menjadi angin, tanpa menunggu menit bergulir tiba-tiba ia roboh seketika. Melongo aku memandanginya. Ada perasaan aneh yang menelusup di dada. Apakah ini perasaan menyesal? Aku tak tahu. Ataukah ini perasaan bersalah? Tak tahu juga. Bangga? Kukira tidak. Tertawa pun aku tak bisa.

Sejak kejadian itu aku jadi sulit tertawa. Kukira ada sosok lain yang akan menguasai tubuhku. Kini aku menjadi batu, keras. Tanah tempat berpijak apabila diendapkan terus-menerus akan menggumpal dan menjadi batu yang keras. Atau ia berasal dari muntahan gunung berapi? Batuan magma yang muncul dari kerak bumi. Mungkinkah karang dari seberang lautan? Lagi-lagi aku bingung. Serta-merta ia tumbuh dan kuasai diri ini tanpa ada kata permisi.

Baca juga: 40 Kata-Kata Indah Kehidupan sebagai Sumber Semangat dan Syukur

“Permisi?”

Ada yang datang. Terpaksa lamunan aku tunda.

Dia lagi.

Entah dia manusia sewujud apa. Sejak kapan manusia bisa bersahabat dengan benda mati? Sejak kapan benda mati bisa berubah menjadi manusia lagi? Berperasaan, bergerak serta merasa. Merasai ada sesuatu yang lain dengan dirinya. Bukan air, bukan tanah, bukan api, angin atau batu. Benar-benar aku menjadi manusia yang berperasaan. Menangisi ketidaksanggupan. Merindui seseorang yang diinginkan. Melemah pada titik tertentu. Aku jatuh.

“Kak, jatuh cinta itu seperti apa?”

Ingatanku melayang semasa belasan tahun yang lalu.

Ia tidak menjawab. “Kakak sedang jatuh cinta, kan? Iya kan? Kenapa diam? Malu, ya?”

Kuanggap bulan itu adalah musimnya jatuh cinta. Hampir semua anggota keluarga memiliki pasangan. Aku cukup melihat saja. Nanti malam ada seorang yang datang. Kakak perempuanku yang kedua akan didatangi seorang pemuda bersama beberapa  anggota keluarganya.

Keduanya akan diikat. Kata ibu, ia adalah pasangan paling pantas untuk kakak. Kakak diam saja saat ibu sedang sibuk mengacak-acak rambutnya di depan cermin. Memolesi wajahnya dengan bedak yang mencapai ketebalan tak terkira. Juga mewarnai bibirnya serupa apel merah yang mengilat. Wajah kakak menjadi berbeda. Terlihat lebih tua dari biasanya. Padahal usianya belum genap mencapai dua puluh.

Baca juga: 25+ Puisi Chairil Anwar yang Melegenda dan Menginspirasi

“Kakak bahagia?”

Lagi, bibirnya masih terkatup. Sama diamnya seperti ketika ibu memperlakukan kakak tanpa perlawanan. Meskipun tak menjawab tapi kutahu ada jawaban disana. Mata kakak berkaca-kaca. Sesaat kemudian dua butir air mata membasahi kedua pipinya.

Sesempit itukah pilihan untuk seorang perempuan? Kupikir tidak. Kala itu, perempuan ibarat para manekin yang biasa di pajang di balik etalase. Ia punya mata, tapi tak boleh sembarang melihat. Ia punya telinga, tapi mendengar lewat orang lain. Ia punya hati tapi dilarang merasa, cukup ikuti saja. Punya badan yang siap dikuasai.

Aku Ra, bukan perempuan seperti itu.

Sejak kapan ada manusia tubuhnya terbelah tapi tak mati? Itulah aku. Terbelah menjadi banyak. Kebingungan. Sudah lama aku meninggalkan jasad ini untuk menjadi orang lain. Menjadi api, air, tanah, angin juga batu. Bertahun-tahun aku berkelana meninggalkan kodrat diri yang sesungguhnya.

Sesungguhnya aku ini siapa? Aku dibenturkan pada kebutaan. Aku tak dapat merasakan apa-apa. Menjadi bebatuan yang tak waspada kalau-kalau ada orang yang berniat memecahkannya. Aku tak takut, biasa saja. Berkali-kali ada orang permisi dengan membawa kunci hati beserta janji yang katanya hendak membebaskan. Aku masih belum percaya. Sepertinya dalam tubuhku ada yang mendahului mati. Hati yang lama dikebiri lama-lama bisa mengeras bukan?

Kita telah bebas. Zaman kolonial telah tertebas. Hiduplah menjadi perempuan merdeka yang memiliki hak atas tubuh dan hatimu sendiri

Trauma. Aku seakan masih mencium bau penjara. Orang-orang jahat yang siap memasung tubuh-tubuh kita lagi. Menakut-nakuti bahwa kau akan mudah mengandung jika jauh-jauh dari rumah. Perempuan yang dianggap mengundang birahi akan mudah mengandung.

Memang betul. Zaman sekarang banyak perempuan-perempuan mengandung tanpa diketahui siapa yang menuai. Aku percaya perkataan orang-orang jaman dahulu ada betulnya. Apa-apa yang mereka khawatirkan akhirnya kejadian. Banyak perempuan-perempuan terpasung sekarang berubah menjadi binal. Banyak laki-laki yang dulunya menghormati wanita sekarang menjadi kesetanan. Dua-duanya sama saja. Tega membunuh bakal darah daging hasil hubungan serupa binatang.

Oh, zaman semakin tua. Aku kian malu menjadi manusia. Kebinalannya melebihi tingkah binatang. Aku kian terasing atas jasad yang kumiliki sendiri. Aku enggan kembali menjadi wanita yang lemah, pun enggan menjadi jalang lantaran kesetanan atas kebebasan yang dimilikinya. Aku adalah aku. Biarlah tetap menjadi batu. Menjadi terasing antara orang-orang yang sibuk memburu fatamorgana.

Baca juga: 25 Puisi Cinta Romantis Banget buat Pacar Tersayang

“Permisi?”

Diakah fatamorgana selanjutnya?

Aku Ra, baru kali ini aku bisa merasa. Kerinduan pada sisi-sisi kerapuhan seorang wanita tak terelakkan. Memberi sembari mencinta dalam ruang kasih antar sesama manusia. Bisakah kau kembalikan aku ke wujud semula? Agar orang tahu aku yang mana. Agar orang percaya aku ada. Kembali percaya dan mencinta sama seperti manusia lainnya.

Sejak kapan ada manusia tubuhnya terbelah tapi tak mati?

Sejak Ra mengenal dia.

NuraMagz